Skip to main content

Posts

Rainy Day

Sore ini hujan turun dengan derasnya. Seperti biasa, setelah magrib aku mulai berangkat lagi untuk mengajar bimbel. Sisa-sisa hujan masih terlihat dan hawa dingin mulai menyelimuti tubuhku. Ah, andai saja aku memakai jaket pasti akan terasa hangat. Aku pun membuka hand phone dan mengirim pesan chat ke dia.

"Yang, dingin"

Dan seperti biasanya pula dia akan sedikit memarahiku karena tidak memakai jaket. Mau gimana lagi? Namanya juga lupa.

Hari semakin malam, saatnya untuk pulang ke rumah. Dia pun datang untuk menjemputku pulang. Aku segera menaiki motornya. Dingin.

Tiba-tiba dia membelokkan sepedanya ke minimarket untuk membeli pulsa. Saat turun dari motor, ia segera membuka jaketnya. Aku pun bingung,

"Kenapa mas?"
"Ini pake jaketnya biar kamu nggak dingin"
"Loh tapi kamu pake lengan pendek, nanti kamu yang kedinginan."
"Nggak apa-apa"
"Beneran nggak papa?"
"Nggak boleh seharusnya", ucapnya sambil tetap memberikan jaketnya k…
Recent posts
"Aku udah sangat terbiasa sama kamu"
"Kata pepatah kan cinta karena sudah terbiasa"
"Belanja di olshop aja aku ngandalin kamu"
"Mencari makanan enak murah berburu promo juga ngandalin kamu"
"Beli2 apa terbiasa minta pndapat mu walaupun kadang pndapat mu gak ku dengerin"
"Kalo hati udah di kamu"
How can it be such a useless thing if every little things on it have a meaning.

Setiap pasangan mungkin saja lengah, tapi bukan berarti dia tidak bahagia.

Kau saja baru seumur jagung, tidak mungkin paham dengan lika-liku ini.

Kzl

Seperti layaknya orang pacaran, aku ingin sesekali memanggil dengan panggilan 'sayang'.

He was still the first one.

Pernah suatu hari, pengen banget. Rasanya ingin mencoba memanggil 'sayang'.

First try.

"Sa...... *diam* Sss... *diam*"

So hard to say.

Second try.
Still hard to say.

Third try.
Dan seterusnya, still hard to say.

Akhirnya menyerah. Bahkan untuk memanggil namanya saja rasanya susah. Jadi kalau panggil selalu, "eh eh ini bla bla bla"

Baru akhir-akhir ini aku belajar memanggil dengan sebutan sayang karena satu dan lain hal.

First try (again)

"Yaaang, laper"
"Ha? Apa?"
*malu sendiri* "laper"

Second try.

"Ini loh yaaang"
"Ha? Apa?"
*kzl* "ini loh"

Percobaan percobaan selanjutnya tetap seperti itu. Sampai akhirnya...

"Hati-hati yaang"
*diem* "kamu kenapa jadi panggil yang?"
*blushing*

Ada nggak sih yang rasanya malu banget bilang sayang seperti aku? Sejak saat itu…

Pelangi

Sekali lagi aku menatap wajah itu.

Tiba-tiba saja aku tersenyum. Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin hidupku akan menjadi abu-abu jika aku tidak bertemu dengannya.


Pertama kali aku melihatmu, aku memandangmu sebagai orang yang berbeda jauh denganku.

Hari itu hari pertama kali aku masuk SMA. Seperti biasanya aku selalu mengamati orang sekitarku, tapi aku belum menemukanmu.

Kelas baru pun dimulai, dan guru kami memanggil nama kami satu per satu.

"Nafis Qurtubi"

Seketika aku menoleh. Ah, ini rupanya.
Iya, aku terlebih dahulu menemukan namamu di papan pengumuman siswa yang diterima di sekolah ini. Nama yang membuatku langsung tertuju padanya. Ternyata aku sekelas dengannya.

Ia pun tak luput dari pengamatanku. Tinggi, ceria, berisik, punya banyak teman.

What?
He called me 'Tar', padahal aku memperkenalkan diri sebagai 'Risa'.

Singkat cerita, kita berbeda.

Beda karakter, beda sifat.

Sampai saat kami dekat, dia yang pertama kali bisa ajak aku keluar malam mingguan yang a…

Simple

Kriiinggg...

Ada apa anak ini tiba-tiba telepon?

"Halo? Kenapa?"
"Lagi apa?"
"Nggak ngapa-ngapain, kenapa?"
"Kamu makan?"
"Enggak, kenapa?"
"Udah makan?"
"Belum, kenapa?"
"Mau Hisana?"
"Lah kamu di Hisana?"
"Iya, mau nggak?"
"Mauuuuuuk"

Tiba-tiba aja muncul depan rumah bawain Hisana. Padahal masih pakai baju koko dan sarung, juga pecinya.

"Lah, kamu kok pakai baju gitu?"
"Iya tadi dari masjid nyariin mama makan"



So blissful!

Deep

Ah, tatapan itu lagi.

Kalau sudah seperti ini aku tidak bisa berkutik lagi. Tiba-tiba saja mas menatapku dalam sambil tersenyum dan satu tangannya menggenggam tanganku. Aku hanya terdiam dan membalas menatapnya.

"Kenapa yang?"

Tanpa menjawab, ia pun menarik tanganku yang berada di genggamannya dan menciumnya.

Sekali, dua kali, tiga kali.........berkali-kali.

"Love you", sahutnya sembari tersenyum menatapku.





How can I hate you if you always give me your infinity love?